Peran Indonesia dalam Kesepakatan Paris Agreement: Komitmen dan Aksi Nyata
Kesepakatan Paris Agreement, yang diadopsi pada tahun 2015, merupakan tonggak sejarah dalam upaya global mengatasi perubahan iklim. Sebagai negara kepulauan terbesar dan pemilik hutan tropis ketiga terluas di dunia, Indonesia memegang peran yang sangat krusial dalam keberhasilan kesepakatan ini. Indonesia tidak hanya sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, tetapi juga merupakan pemain kunci dalam upaya mitigasi dan adaptasi global.
Komitmen Indonesia dalam NDC
Indonesia meratifikasi Kesepakatan Paris pada tahun 2016, menegaskan komitmennya untuk berkontribusi pada target global menahan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2°C, dan berupaya mencapai 1.5°C. Komitmen ini diwujudkan melalui Nationally Determined Contribution (NDC) atau Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional.
Pada awalnya, Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% dengan upaya sendiri (unconditional) dan 41% dengan dukungan internasional (conditional) pada tahun 2030, dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa (Business as Usual/BAU). Komitmen ini kemudian diperbarui (Enhanced NDC) dengan target yang lebih ambisius, menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menghadapi krisis iklim. Lebih jauh lagi, Indonesia juga telah mencanangkan visi jangka panjang menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Aksi Nyata dan Strategi Utama
Untuk mencapai target ambisius tersebut, Indonesia fokus pada beberapa sektor utama:
- Sektor Kehutanan dan Lahan (FOLU): Ini adalah salah satu kontributor emisi terbesar di Indonesia. Program "FOLU Net Sink 2030" menjadi andalan, yang bertujuan agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan dapat menyerap lebih banyak emisi daripada yang dilepaskan, melalui pencegahan deforestasi, restorasi ekosistem gambut, rehabilitasi hutan, dan pengelolaan hutan berkelanjutan.
- Transisi Energi: Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke energi terbarukan. Pengembangan panas bumi, tenaga surya, tenaga air, dan biomassa terus didorong, diiringi dengan upaya efisiensi energi di berbagai sektor.
- Pengelolaan Limbah dan Pertanian Berkelanjutan: Inisiatif pengelolaan sampah menjadi energi, daur ulang, serta pengembangan praktik pertanian rendah emisi juga menjadi bagian dari strategi mitigasi.
- Adaptasi Perubahan Iklim: Selain mitigasi, Indonesia juga berinvestasi pada upaya adaptasi, seperti pembangunan infrastruktur tahan iklim, pengelolaan pesisir, dan sistem peringatan dini bencana.
Tantangan dan Peluang
Perjalanan Indonesia dalam memenuhi komitmen Kesepakatan Paris tidak tanpa tantangan, termasuk kebutuhan pendanaan yang besar, transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Namun, ini juga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi hijau, mendorong inovasi teknologi, dan memperkuat kolaborasi internasional.
Kesimpulan
Peran Indonesia dalam Kesepakatan Paris Agreement adalah cerminan dari kesadaran akan tanggung jawab kolektif global dan urgensi mengatasi perubahan iklim. Dengan komitmen yang kuat dan aksi nyata di lapangan, Indonesia berupaya menunjukkan kepemimpinannya sebagai negara berkembang yang aktif dalam menjaga kelestarian bumi, sekaligus memastikan pembangunan yang berkelanjutan bagi rakyatnya.
