Kesenjangan Sosial Meluas di Tengah Kemajuan Ekonomi Digital

Kesenjangan Sosial Kian Menganga di Balik Kilau Ekonomi Digital

Ekonomi digital telah menjadi lokomotif baru pertumbuhan global, membawa gelombang inovasi, efisiensi, dan peluang yang tak terbayangkan sebelumnya. Dari e-commerce, kecerdasan buatan (AI), hingga big data dan gig economy, dunia seolah berlari menuju masa depan yang serba terkoneksi dan otomatis. Namun, di balik kilau kemajuan ini, tersimpan bayangan gelap yang kian memanjang: meluasnya kesenjangan sosial.

Paradoksnya, kemajuan teknologi yang seharusnya mendemokratisasi akses dan menciptakan pemerataan, justru memperlebar jurang antara "yang punya" dan "yang tidak punya". Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada fenomena ini adalah:

  1. Digital Divide (Kesenjangan Digital): Akses terhadap internet berkualitas, perangkat digital, dan listrik masih menjadi kemewahan bagi jutaan orang, terutama di daerah pedesaan atau negara berkembang. Tanpa akses dasar ini, partisipasi dalam ekonomi digital menjadi mustahil.
  2. Kesenjangan Keterampilan: Ekonomi digital menuntut keterampilan baru yang spesifik, seperti pemrograman, analisis data, atau keahlian digital marketing. Mereka yang memiliki akses ke pendidikan dan pelatihan yang relevan akan maju pesat, sementara mereka yang tidak akan tertinggal dan terancam oleh otomatisasi yang menggantikan pekerjaan rutin.
  3. Konsentrasi Kekayaan: Platform digital raksasa cenderung menciptakan efek "pemenang mengambil semua". Kekayaan dan kekuasaan terkonsentrasi pada segelintir perusahaan teknologi dan individu dengan keahlian super spesialis. Ini menciptakan kesenjangan upah yang ekstrem antara pekerja teknologi elit dan mayoritas.
  4. Prekaritas Gig Economy: Meskipun menciptakan fleksibilitas, model gig economy seringkali datang dengan upah rendah, minimnya jaminan sosial (kesehatan, pensiun), dan ketidakpastian kerja. Pekerja sering dianggap mitra independen daripada karyawan, menghilangkan hak-hak dasar.

Akibatnya, jurang pemisah antara kelompok masyarakat yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi dengan yang tidak, semakin dalam. Hal ini berpotensi memicu ketidakpuasan sosial, mengurangi mobilitas vertikal, dan mengancam kohesi masyarakat.

Fenomena ini menuntut perhatian serius dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Perlu ada upaya kolektif untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi digital dapat diakses dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir orang. Investasi dalam pendidikan digital inklusif, jaring pengaman sosial yang adaptif, dan regulasi yang adil bagi pekerja gig economy adalah langkah krusial untuk mencegah kesenjangan sosial ini menjadi luka yang tak tersembuhkan di era digital.

Exit mobile version