Kenaikan Masalah Tergila-gila Alat Sosial di Golongan Siswa

Ketika Media Sosial Menjajah Pikiran Siswa: Sebuah Obsesi yang Kian Mengkhawatirkan

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, menawarkan berbagai kemudahan komunikasi dan akses informasi. Namun, di kalangan siswa, penggunaan ini seringkali bergeser dari sekadar alat menjadi "kegilaan" atau obsesi yang menimbulkan kekhawatiran serius. Fenomena ini semakin merajalela, mengancam keseimbangan hidup dan potensi terbaik generasi muda.

Daya tarik media sosial bagi siswa sangat kuat. Fitur-fitur seperti "likes", komentar, dan notifikasi instan menciptakan lingkaran umpan balik positif yang memicu pelepasan dopamin, menimbulkan rasa senang dan validasi. Rasa takut ketinggalan (FOMO – Fear of Missing Out) juga mendorong mereka untuk terus terhubung, khawatir jika tidak ikut serta dalam tren atau percakapan yang sedang berlangsung. Tanda-tanda obsesi ini terlihat jelas: siswa sering memeriksa ponsel setiap beberapa menit, merasa cemas atau gelisah saat tidak bisa mengakses platform favorit mereka, bahkan mengorbankan waktu tidur atau belajar demi berselancar di dunia maya.

Dampak dari "kegilaan" ini merambah berbagai aspek kehidupan siswa. Secara akademis, konsentrasi belajar menurun drastis, tugas terbengkalai, dan nilai sekolah pun terpengaruh. Pada tingkat kesehatan mental, perbandingan diri dengan citra sempurna yang sering ditampilkan di media sosial dapat memicu kecemasan, depresi, rendah diri, dan bahkan masalah citra tubuh. Gangguan tidur juga sering terjadi akibat paparan layar di malam hari, yang berdampak pada energi dan fokus di sekolah. Interaksi sosial di dunia nyata pun berkurang, digantikan oleh hubungan daring yang seringkali dangkal, sehingga keterampilan komunikasi tatap muka siswa menjadi tumpul.

Kenaikan masalah obsesi terhadap media sosial di kalangan siswa bukanlah isu sepele yang bisa diabaikan. Ini adalah panggilan bagi semua pihak—orang tua, guru, dan terutama siswa itu sendiri—untuk meninjau ulang pola penggunaan teknologi. Pentingnya literasi digital, kesadaran akan dampak negatif, dan kemampuan untuk membatasi diri menjadi kunci untuk mencegah "kegilaan" ini merampas potensi terbaik generasi muda dan mengembalikan media sosial pada fungsi awalnya: sebagai alat yang mendukung, bukan menguasai, kehidupan mereka.

Exit mobile version