Kejadian Burnout Berjangkit di Golongan Pekerja Belia

Ketika Burnout Menjadi ‘Epidemi’ di Kalangan Pekerja Belia: Sebuah Fenomena Berjangkit

Dunia kerja modern seringkali menuntut lebih, menciptakan tekanan yang tak jarang berujung pada kondisi kelelahan ekstrem yang dikenal sebagai burnout. Bukan sekadar lelah biasa, burnout adalah sindrom kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh stres kerja kronis yang tidak tertangani. Ironisnya, fenomena ini kini semakin marak dan bahkan berpotensi ‘berjangkit’ di kalangan pekerja belia.

Pekerja belia, yang seringkali baru menapaki jenjang karir, menghadapi ekspektasi tinggi dari diri sendiri maupun lingkungan. Mereka tumbuh di era digital yang mengagungkan "hustle culture" – budaya yang mendorong kerja keras tanpa henti dan seringkali mengabaikan batasan. Ditambah lagi, garis tipis antara kehidupan pribadi dan profesional yang makin kabur akibat teknologi, membuat mereka sulit mematikan "mode kerja". Kurangnya pengalaman dalam mengelola stres dan menetapkan batasan diri juga menjadikan mereka rentan.

Lalu, bagaimana burnout bisa menjadi "berjangkit"? Mekanisme penularan ini cukup kompleks. Lingkungan kerja yang menormalisasi jam kerja berlebihan, tenggat waktu yang tidak realistis, atau budaya kompetitif yang tak sehat, dapat menciptakan atmosfer di mana burnout menjadi sesuatu yang "wajar". Ketika seorang rekan kerja terlihat bekerja hingga larut malam atau akhir pekan dan dianggap "produktif", ini bisa menekan individu lain untuk mengikuti, khawatir dianggap kurang berdedikasi.

Media sosial juga berperan. Paparan konstan terhadap "kesuksesan" orang lain, atau narasi yang mengagungkan "grind" tanpa henti, dapat memicu fear of missing out (FOMO) atau perasaan tidak cukup. Pekerja belia mungkin merasa harus terus-menerus menunjukkan produktivitas mereka, bahkan jika itu berarti mengorbankan kesejahteraan pribadi. Ketakutan tertinggal atau dianggap tidak produktif ini akhirnya menular, menciptakan lingkaran setan burnout di seluruh tim atau departemen.

Dampak burnout berjangkit ini tidak main-main. Di tingkat individu, ia dapat memicu masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, gangguan tidur, hingga masalah fisik. Di tingkat organisasi, fenomena ini menyebabkan penurunan produktivitas kolektif, tingginya tingkat turnover karyawan muda, dan terciptanya lingkungan kerja yang toksik.

Fenomena burnout berjangkit ini adalah alarm bagi kita semua. Penting bagi pekerja belia untuk mengenali batas diri, berani mengatakan "tidak", dan memprioritaskan kesehatan mental. Di sisi lain, perusahaan juga memiliki peran krusial dengan menciptakan budaya kerja yang menghargai keseimbangan hidup, menetapkan ekspektasi yang realistis, serta menyediakan dukungan dan sumber daya bagi karyawan. Dengan kesadaran dan tindakan kolektif, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan, di mana semangat dan potensi pekerja belia dapat berkembang tanpa harus terbakar habis.

Exit mobile version