Stunting di Indonesia Masih Tinggi: Sasaran 2025 Rawan Tercapai
Stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), masih menjadi ancaman serius bagi masa depan Indonesia. Meskipun berbagai program dan intervensi telah digalakkan, prevalensi stunting di tanah air masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, menempatkan sasaran penurunan yang ambisius pada tahun 2025 dalam bahaya.
Kondisi Saat Ini: Angka yang Mengkhawatirkan
Data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia masih berada di kisaran yang mengkhawatirkan, di atas 20%. Angka ini memang menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun laju penurunannya belum cukup signifikan untuk mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah. Penyebabnya kompleks, meliputi kurangnya akses terhadap pangan bergizi, sanitasi dan air bersih yang buruk, minimnya edukasi gizi bagi orang tua, serta keterbatasan akses layanan kesehatan dasar.
Sasaran 2025: Tantangan Berat di Depan Mata
Pemerintah Indonesia telah menargetkan penurunan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2025. Dengan sisa waktu yang semakin menipis, pencapaian target ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) yang sangat berat. Kesenjangan yang masih lebar antara angka saat ini dengan target, ditambah dengan tantangan implementasi program di lapangan, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, serta disparitas kondisi di berbagai daerah, membuat sasaran 2025 rawan tidak tercapai.
Dampak Jangka Panjang dan Urgensi Penanganan
Dampak stunting tidak hanya terbatas pada tinggi badan anak yang lebih pendek, tetapi juga mengganggu perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas di masa dewasa, serta meningkatkan risiko penyakit kronis. Ini berarti stunting adalah ancaman serius terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di masa depan dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, penanganan stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga investasi krusial bagi kemajuan bangsa.
Langkah ke Depan: Perlu Intervensi Ekstra
Untuk mencapai target 2025, dibutuhkan komitmen dan aksi nyata yang lebih masif dari semua pihak. Intervensi spesifik (seperti pemberian makanan tambahan, suplemen gizi) dan intervensi sensitif (seperti perbaikan sanitasi, edukasi gizi, akses air bersih) harus terus diperkuat dan diperluas jangkauannya. Penguatan koordinasi antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta pelibatan aktif masyarakat dan sektor swasta menjadi kunci. Tanpa upaya ekstra yang terkoordinasi dan berkelanjutan, sasaran penurunan stunting 2025 akan tetap menjadi target yang rawan dan sulit digapai, mengorbankan potensi generasi penerus bangsa.
