Studi Kasus Cedera Bahu pada Atlet Renang dan Penanganannya

Studi Kasus Cedera Bahu Atlet Renang: Memahami ‘Swimmer’s Shoulder’ dan Penanganannya

Renang adalah olahraga yang menuntut kekuatan, daya tahan, dan teknik yang presisi. Namun, gerakan berulang pada bahu menjadikan atlet renang rentan terhadap cedera, terutama di area bahu. Salah satu kondisi paling umum adalah "Swimmer’s Shoulder" atau Bahu Perenang, yang seringkali merupakan sindrom impingement bahu atau tendinopati rotator cuff. Mari kita telaah melalui studi kasus ilustratif.

Kasus Ilustratif: Arya, Atlet Renang Gaya Bebas

Arya, seorang atlet renang muda berusia 17 tahun yang berspesialisasi dalam gaya bebas, mulai merasakan nyeri tumpul di bahu kanannya. Awalnya nyeri hanya muncul setelah sesi latihan yang panjang, namun lama kelamaan semakin sering dan mengganggu performanya. Nyeri terasa terutama saat fase recovery (mengangkat lengan ke depan) dan pull (menarik air) dalam renang. Bahkan, ia mulai kesulitan mengangkat lengan di atas kepala atau tidur miring di sisi yang sakit. Peningkatan intensitas dan volume latihan menjelang kompetisi besar diyakini menjadi pemicu utamanya.

Diagnosis

Setelah berkonsultasi dengan dokter olahraga dan fisioterapis, Arya menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh. Ditemukan adanya keterbatasan gerak pada bahu, nyeri saat tes impingement tertentu, dan kelemahan pada otot-otot stabilisator skapula (tulang belikat) dan rotator cuff. Meskipun tidak ada tanda-tanda robekan serius, diagnosis ditegakkan sebagai Sindrom Impingement Bahu dan Tendinopati Supraspinatus, yang merupakan manifestasi klasik dari Swimmer’s Shoulder. Kondisi ini disebabkan oleh kompresi tendon rotator cuff di bawah akromion (bagian tulang belikat) akibat penggunaan berlebihan, ketidakseimbangan otot, dan teknik renang yang kurang optimal.

Penanganan dan Rehabilitasi

Penanganan cedera Arya dilakukan secara komprehensif:

  1. Istirahat Relatif: Arya diinstruksikan untuk mengurangi aktivitas renang yang memicu nyeri. Bukan istirahat total, melainkan modifikasi latihan agar bahu tidak terbebani berlebihan.
  2. Manajemen Nyeri Akut: Kompres es secara teratur dan, jika diperlukan, obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) untuk mengurangi nyeri dan peradangan (dengan resep dokter).
  3. Fisioterapi Intensif: Ini adalah pilar utama pemulihan. Program fisioterapi Arya meliputi:
    • Mobilisasi dan Peregangan: Untuk mengembalikan rentang gerak bahu yang normal, terutama peregangan kapsul posterior dan otot pektoralis yang seringkali kencang pada perenang.
    • Penguatan Otot: Fokus pada penguatan otot rotator cuff (terutama external rotator) dan otot-otot stabilisator skapula. Latihan core strength juga diintegrasikan untuk menopang gerakan bahu.
    • Latihan Proprioseptif: Melatih kesadaran posisi sendi dan stabilitas bahu.
  4. Koreksi Teknik Renang: Bersama pelatih, Arya menganalisis dan memperbaiki teknik renangnya. Fokus diberikan pada:
    • Posisi tangan saat entry ke air (tidak menyilang garis tengah tubuh).
    • Rotasi tubuh yang lebih efektif untuk mengurangi beban pada bahu.
    • Catch dan pull yang lebih efisien.
  5. Return to Sport Bertahap: Setelah nyeri mereda dan kekuatan bahu membaik, Arya memulai kembali latihan renang secara bertahap, diawali dengan intensitas rendah dan peningkatan bertahap. Setiap sesi dipantau ketat untuk mencegah kekambuhan.

Pencegahan

Untuk mencegah cedera berulang, Arya kini rutin melakukan program pencegahan yang meliputi:

  • Pemanasan dan pendinginan yang memadai.
  • Latihan kekuatan dan fleksibilitas bahu secara teratur di luar kolam.
  • Pemantauan volume dan intensitas latihan.
  • Evaluasi teknik renang secara berkala oleh pelatih.
  • Istirahat dan nutrisi yang cukup.

Kesimpulan

Studi kasus Arya menunjukkan bahwa "Swimmer’s Shoulder" adalah cedera overuse yang umum pada atlet renang. Penanganan yang efektif membutuhkan pendekatan multi-disiplin yang melibatkan atlet, pelatih, dokter, dan fisioterapis. Diagnosis dini, rehabilitasi komprehensif, koreksi teknik, dan program pencegahan yang konsisten adalah kunci untuk pemulihan total dan memungkinkan atlet kembali berprestasi tanpa dibayangi cedera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *