Mahasiswa Kembali Turun ke Jalur: Menggugat Akar Masalah Pendidikan
Pemandangan mahasiswa yang kembali berbondong-bondong turun ke jalan, mengangkat spanduk, dan menyuarakan aspirasi bukanlah sekadar nostalgia sejarah. Ini adalah refleksi mendalam dari kegelisahan generasi muda terhadap sistem pendidikan yang mereka rasa semakin usang, tidak relevan, dan gagal menjawab tantangan zaman. Gerakan "balik turun ke jalur" ini bukan sekadar protes, melainkan gugatan serius terhadap fondasi pendidikan bangsa.
Ada banyak alasan yang mendasari langkah ini. Mulai dari kurikulum yang dinilai ketinggalan zaman, biaya pendidikan yang kian melambung tinggi tanpa diimbangi peningkatan kualitas yang signifikan, ketimpangan akses pendidikan yang masih merajalela, hingga minimnya relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa merasa bahwa sistem yang ada saat ini lebih menekankan pada hafalan dan pencapaian angka, daripada pembentukan karakter, pemikiran kritis, dan kreativitas yang esensial untuk masa depan.
Gugatan mereka bukan hanya sekadar meminta perbaikan parsial, melainkan pembaruan sistemik yang fundamental. Mereka mendambakan pendidikan yang holistik, inklusif, dan berorientasi masa depan; yang mengedepankan penalaran kritis, etika, dan kemampuan beradaptasi. Mereka menuntut transparansi dalam pengelolaan anggaran pendidikan, akuntabilitas institusi, serta pemerataan kualitas agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Aksi turun ke jalan ini adalah wujud kepedulian dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai agen perubahan. Ini adalah cara mereka mengingatkan para pemangku kebijakan bahwa suara kolektif generasi penerus tidak bisa diabaikan. Sejarah telah mencatat peran krusial mahasiswa dalam setiap perubahan besar di negeri ini. Kini, mereka kembali tampil, menyuarakan bahwa pendidikan adalah investasi paling berharga, dan masa depan bangsa bergantung pada keberanian kita untuk mereformasi sistem yang sudah saatnya diperbarui.
Gerakan ini adalah alarm sekaligus peluang. Alarm bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk introspeksi, dan peluang untuk bersama-sama merancang masa depan pendidikan yang lebih cerah. Mendengarkan suara mahasiswa adalah langkah awal menuju pembaruan sistem pendidikan yang benar-benar transformatif, demi Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
