Kodrat Pegawai Migran di Tengah Darurat: Antara Ketahanan dan Keterpinggiran
Pegawai migran adalah tulang punggung ekonomi, baik bagi negara asal maupun negara tujuan. Namun, lebih dari sekadar angka statistik, mereka adalah individu dengan "kodrat" unik: pejuang yang berani meninggalkan kampung halaman demi harapan, penyumbang devisa yang menjaga denyut nadi keluarga, dan jembatan budaya yang menghubungkan dua dunia. Kodrat mereka diwarnai ketahanan luar biasa, pengorbanan tanpa henti, dan seringkali, kerentanan yang inheren.
Ketika dunia dihadapkan pada situasi darurat—baik itu pandemi global, krisis ekonomi, konflik regional, atau bencana alam—kodrat ini diuji hingga batasnya. Darurat menjadi cermin yang memperlihatkan secara telanjang posisi pegawai migran yang paradoks: mereka esensial namun seringkali terpinggirkan.
Ketika Darurat Melanda:
- Kerentanan yang Diperparah: Situasi darurat secara drastis memperparah kerentanan yang sudah ada. Kehilangan pekerjaan mendadak, akses terbatas pada layanan kesehatan dan jaring pengaman sosial, serta ancaman deportasi menjadi momok yang nyata. Mereka seringkali menjadi yang pertama diberhentikan dan yang terakhir mendapat bantuan.
- Ketahanan yang Teruji: Di sisi lain, darurat juga menyingkapkan ketahanan luar biasa mereka. Dengan segala keterbatasan, banyak yang tetap berjuang untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan kondisi baru, dan bahkan terus berusaha mengirimkan uang kepada keluarga di kampung halaman, meskipun pendapatan mereka sendiri sangat tertekan.
- Pengorbanan Tak Terlihat: Dalam banyak kasus, pegawai migran berada di garis depan krisis—bekerja di sektor vital seperti pertanian, kesehatan, logistik, atau layanan kebersihan—seringkali dengan risiko tinggi dan tanpa perlindungan memadai. Pengorbanan mereka dalam menjaga roda kehidupan tetap berputar di tengah darurat seringkali luput dari pengakuan publik.
- Keterasingan dan Stigma: Darurat bisa memicu gelombang xenofobia dan diskriminasi. Pegawai migran seringkali disalahkan atau dianggap sebagai beban, menambah beban psikologis dan sosial di tengah ketidakpastian.
Refleksi dan Seruan:
Situasi darurat harus menjadi titik balik bagi kita untuk memahami dan menghargai kodrat pegawai migran. Mereka bukan hanya "tenaga kerja," melainkan manusia dengan martabat, hak, dan kontribusi yang tak ternilai. Momen darurat ini menuntut kebijakan yang lebih inklusif, sistem perlindungan sosial yang komprehensif, dan pengakuan atas peran vital mereka.
Mengakui kodrat mereka—sebagai individu yang tangguh namun rentan, pemberi manfaat namun sering diabaikan—adalah langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Darurat mengajarkan kita bahwa kesejahteraan satu bagian masyarakat tak bisa dipisahkan dari kesejahteraan bagian lainnya, terutama mereka yang telah berkorban begitu banyak demi harapan.
