Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Kekerasan di Badan Sosialisasi: Alarm Berulang yang Tak Kunjung Padam

Berita tentang kekerasan di lingkungan pendidikan atau lembaga sosialisasi kembali mencuat, seolah menjadi pengingat pahit bahwa masalah ini masih jauh dari kata usai. Insiden yang seharusnya membentuk karakter dan moral, justru seringkali ternoda oleh praktik-praktik kekerasan yang merusak fisik dan mental generasi penerus.

Fenomena ini kerap terjadi di lembaga yang mengedepankan disiplin dan hierarki, seperti sekolah berasrama, akademi militer/kepolisian, atau pusat pelatihan. Dalih pembentukan karakter, penguatan mental, atau tradisi senioritas seringkali menjadi tameng untuk praktik-praktik perploncoan, intimidasi, hingga kekerasan fisik yang berlebihan. Ironisnya, tempat yang seharusnya menjadi kawah candradimuka kebijaksanaan dan etika, justru menjadi arena di mana kuasa disalahgunakan dan nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak.

Dampak bagi korban sangat mendalam: trauma psikologis yang berkepanjangan, cedera fisik, bahkan tidak jarang berujung pada kehilangan nyawa. Di sisi lain, citra lembaga tercoreng, kepercayaan publik runtuh, dan tujuan mulia pendidikan terdistorsi. Lebih jauh, keberlanjutan kekerasan ini menciptakan lingkaran setan di mana korban dapat tumbuh menjadi pelaku, atau setidaknya membenarkan praktik serupa di masa depan.

Menghentikan lingkaran setan ini membutuhkan komitmen serius dari semua pihak. Peraturan yang lebih ketat dan penegakan hukum tanpa pandang bulu mutlak diperlukan. Sistem pengawasan internal dan eksternal yang efektif, pendidikan anti-kekerasan dan empati bagi seluruh elemen (mulai dari pimpinan, staf pengajar, hingga senior), serta mekanisme pelaporan yang aman dan mudah diakses harus menjadi prioritas. Yang terpenting adalah mengubah budaya yang mentolerir kekerasan dan menggantinya dengan budaya saling menghormati dan menghargai martabat manusia.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa kekerasan bukanlah cara membentuk karakter yang kuat, melainkan merusak potensi dan masa depan. Mari ciptakan lingkungan sosialisasi yang aman, inklusif, dan benar-benar mendidik, di mana setiap individu dapat tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *