Laman transaksi jual-beli online, Craigslist, selama beberapa tahun terakhir telah digunakan untuk prostitusi. Begitupula laman internet lainnya. Periset CBS 3 I-Team menemukan persembunyian baru pelacur kini berada pada media sosial yang penyebarannya paling luas.

Menurut tim periset di AS itu, Twitter digunakan para Pekerja Seks Komersial (PSK) sebagai media iklan gratis. Pencarian sederhana untuk jasa teman kencan saja menghasilkan ribuan tweet. Gambar seronok dan tautan ke laman seks pun langsung muncul.

Mengatur pertemuan dengan pelacur semudah mengakses Twitter. Bahkan, bisa digunakan oleh anak-anak usia berapapun.

I-Team bertemu dengan salah satu PSK di motel sekitar Wilmington, Delaware, Amerika Serikat. Semua jalur komunikasi hanya melalui Twitter.

Tim penyelidik ini juga bertemu dengan perempuan yang memanggil dirinya “dewi” di motel Cherry Hill setelah  melihat iklannya di Twitter.

Perempuan ini menggunakan Twitter selayaknya para pekerja seks lain. Dia menggoda calon klien hanya dalam 140 karakter. Pelacur ini juga menunjukkan waktu dan lokasi keberadaannya. Dia memuat tweet seperti, “Satu hari lagi hingga perjalanan berlangsung. Pesan secepatnya.”

“Kesempatan untuk disergap polisi menjadi risiko mereka,” ujar Detektif Polisi Mount Laurel, Ed Pincus. Dia mengatakan departemennya tidak memiliki satuan khusus untuk melacak semua transaksi prostitusi via Twitter ini.

“Kami tidak punya tenaga untuk melacak ini semua non-stop. Seharusnya kami bisa,” keluhnya.

Selain pelacur, mucikarinya pun hadir di Twitter untuk mempromosikan gadis-gadisnya berserta daftar harganya. Kadang harga yang tertera begitu eksplisit.  Tapi, sering kali harga dicantumkan dalam bentuk kode seperti “115 kondom = US$11.500” yang berarti setiap kunjungan seharga US$100.

Respon Cepat

“Twitter memberikan peluang bagi pelacur untuk meraih pelanggan secepatnya,” ujar pakar kejahatan siber, Rob D’Ovidio.

“Apabila sedang sepi pelanggan, mereka bisa menggoda konsumen secara langsung. Mereka bisa menarik konsumen dengan memberikan harga diskon atau harga khusus happy hour,” imbuhnya seperti dikutip dari laman Cbslocal.com.

Twitter juga memberikan risiko bagi pelacur. Ketika I-Team mengatakan mereka tidak punya cukup uang untuk membayarnya, pelacur itu langsung berang. Perempuan itu mengatakan harganya tertera di lamannya. Bahkan, dia pun menyertakan tarifnya di Twitter.

Setelah pergi, pelacur itu pun menulis tweet.

“Aku tidak akan pernah membuat janji lagi menggunakan Twitter. Kebodohanku. Bagaimana mereka bisa tidak membawa uang yang setidaknya cukup untuk membayar kunjungan singkat?” keluhnya.

Sumber: Vivanews