Pencurian Pulsa, ya kasus ini menjadi headline di beberapa media elektronik dan surat kabar, pasti kamu juga sering mendengarnya bukan? Mari coba kita bahas apa modus pencurian pulsa, bagaimana motifnya dan sebenarnya siapa yang salah dalam kasus pencurian pulsa apakah itu Content Provider ataukah Operator Seluler? Ataukah malah kita sendiri/pelanggan yang melakukan kesalahan, mari kita mulai bahasannya.

Kasus Pencurian Pulsa

Merebaknya kasus pencurian pulsa saat ini sebenarnya dipicu oleh laporan korban-korban pencurian pulsa / sedot pulsa ke pihak yang berwajib, dari berita-berita yang beredar di media massa, nama-nama korban yang melaporkan antara lain Feri Kuntoro, David ML dan bahkan terdapat 50 orang dari Surabaya yang secara serentak melaporkan kasus pencurian pulsa ke Polda Jawa Timur. [blockquote align=”right”]Pencurian Pulsa memaksa operator mengembalikan hampir 1 miliar pulsa[/blockquote] Bagaimana Sebenarnya Modus Operandi dari para Content Provider dalam melakukan aksi pencurian pulsa ini? Seperti yang kita ketahui teknologi komunikasi di Indonesia sangat berkembang pesat, didukung dengan layanan pengisian pulsa baik pulsa elektrik dan pulsa fisik yang lebih mudah. Keadaan ini membuat para operator seluler “semakin kreatif” dalam memberikan layanan-layanan kepada pelanggannya yang tentu tidak gratis. Sebagai contoh layanan konten yang pertama kali kita kenal ialah NSP (Nada Sambung Pribadi) dari Telkomsel yaitu si pemanggil nomor kita mendengarkan lagu-lagu yang kita pilih dimana jika nomor tersebut tidak memakai layanan ini maka si pemanggil hanya mendengar nada sambung biasa (Tut…).

Modus Pencurian Pulsa

Tentu layanan NSP ini tidaklah gratis, karena untuk berlangganan layanan ini maka secara otomatis dan teratur sistem operator seluler akan memotong pulsa yang kita punya secara otomatis sesuai dengan harga langganan. Setelah trend NSP ini menjadi booming, muncullah para Content Provider yang menggunakan konsep serupa tapi tak sama, mengapa begitu?

pencurian pulsaKarena yang dijual kemudian bukan hanya lagu-lagu saja tetapi merambat ke konten lainnya seperti ramalan, jodoh, karir, selebritis, games, berita dll. Konten-konten ini tidak disediakan langsung oleh operator seluler, tetapi konten tersebut adalah konten yang berasal dari pihak ketiga (third party) yang bekerja sama dengan operator seluler dalam menjalankan bisnis ini, oleh karena itu perusahaan yang bergerak di bidang ini disebut Content Provider.

Pada awal munculnya content provider tidak “seganas” akhir-akhir ini, perusahaan tersebut secara jujur dan adil dalam melakukan bisnisnya contoh: Layanan Customer Service dipasang dengan tulisan yang besar, sehingga apabila ada pelanggan yang ingin berhenti langganan atau ada permasalahan dalam kontennya maka dapat dengan mudah menghubungi customer service dari content provider tersebut. Tetapi dengan makin maraknya bermunculan perusahaan pada bidang konten provider ini, maka persaingan menjadi ketat dan banyak oknum-oknum perusahaan yang tidak menjalankan bisnis ini sebagaimana mestinya sehingga timbul kasus pencurian pulsa .

Sebagai contoh, Layanan Pelanggan yang sangat sulit dihubungi, padahal dalam bidang jasa seperti ini layanan pelanggan adalah salah satu faktor penentu kesuksesan bisnis tersebut. Kejanggalan lainnya ialah pemotongan pulsa yang terus menerus sehingga membuat pulsa yang Anda punya terkuras habis hanya untuk menerima konten tersebut, sebagai catatan kita tidak akan menerima konten apapun apabila nomor handphone kita tidak mempunyai pulsa yang cukup untuk menerima konten. Bahkan yang lebih parah lagi ada beberapa kasus dimana saat kita baru membeli pulsa dengan tujuan menghubungi sesorang atau hal lainnya disaat pulsa baru masuk semenit saja ternyata langsung dipotong oleh penyelenggara konten tersebut, sungguh mengenaskan 🙁 dan inilah mungkin yang kita sering sebut dengan pencurian pulsa .

Motif Pencurian Pulsa

Dalam menjalankan bisnisnya para Content Provider yang nakal tentu berkeinginan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya tetapi tanpa memberikan layanan yang baik kepada pelanggan, hal inilah yang dikeluhkan oleh para pelanggannya yang notabene adalah pelanggan dari operator seluler dimana dia berlangganan konten tersebut.

Sungguh tidak bijaksana bukan, jika kita ingin berhenti dari layanan tersebut harus telepon sana sini, kita coba menghubungi customer service operator tetapi jawaban yang diberikan adalah kita harus menghubungi layanan pelanggan dari si penyedia konten, sedangkan kita tidak tahu dan tidak hapal penyedia konten yang mana dimana kita berlangganan.

Jadi yang mencuat di benak saya kemudian ialah, lalu siapa yang salah dalam kasus pencurian pulsa ini? operator seluler kah? conten provider kah? atau justru salah kita sendiri kah? Jika kita coba ambil kemungkinan yang terakhir, tentu para pelanggan menginginkan layanan konten yang dijanjikan di dalam iklan-iklannya karena mungkin ada konten yang berguna bagi mereka sehingga dengan begitu para pelanggan memutuskan untuk berlangganan konten tersebut. Tetapi mungkin para pelanggan harus lebih cermat saja dalam memilih konten yang diinginkannya, memeriksa apakah terdapat Nomor CS yang mudah dihubungi dll. jadi dalam kaca mata saya pelanggan tidak sepenuhnya salah karena mereka mempunyai tujuan tertentu dalam berlangganan konten dan mereka justu berada dalam pihak yang dirugikan!.

Content Provider yang baik tentu mempunyai TOS atau Term Of Service yang dapat dilihat dan dibaca dengan mudah oleh pelanggan sebelum memutuskan untuk berlangganan, disamping itu content provider juga harus memberikan informasi yang jelas mengenai jumlah pulsa yang dipotong, frekuensi pengiriman konten, jadwal pengiriman konten dan cara menghentikan langganan konten sehingga pelanggan tidak dibut bingung dan merasa dirugikan sehingga muncullah istilah pencurian pulsa . Dari sisi operator seluler mungkin kita hanya berharap agar dapat melakukan seleksi ulang dalam memilih perusahaan Content Provider yang ingin berkerja sama dengan mereka, sehingga Content Provider yang nakal tidak mendapatkan hak kerja sama dengan operator seluler.

Dari data yang dapat saya himpun dari berbagai sumber, Jenis layanan yang banyak dikeluhkan korban pencurian pulsa adalah konten musik, ring back tone (RBT), kuis, games, hingga undian gratis berhadiah (UGB) sedangkan Data keluhan pelanggan yang masuk ke tiap-tiap operator mulai bulan September hingga November 2011. Nilai persisnya adalah Rp 964.945.657.

Berdasarkan laporan operator seluler kepada BRTI, pengembalian pulsa kepada pelanggan yaitu :

  • Telkomsel :Rp 446.504.516
  • Indosat :Rp 58.289.614
  • XL Axiata :Rp 369.512
  • Axis Telecom :Rp 1.314.465
  • Hutchison (Three) :Rp 10.621.769
  • Bakrie Telecom :Rp 26.800

Dengan demikian, sesuai instruksi BRTI Nomor 177/2011 Tanggal 14 Oktober 2011, dijelaskan bahwa operator atau content provider (CP) diminta untuk segera menghentikan penawaran konten melalui SMS broadcast/pop screen, serta voice broadcast.Dari data diatas, Telkomsel juara untuk mengembalikan pulsa kepada pelanggannya, mungkin lebih disebabkan karena pelanggan mereka yang memang jumlahnya hampir mencapai 100 juta pelanggan, tetapi memang menurut pendapat saya pribadi, penawaran konten melalui pop screen memang sangat sangat sangat menjengkelkan :).

[notice]Jika ada pengaduan tentang pencurian pulsa , pengguna bisa menelepon ke call center BRTI di nomor telepon 159, baik dari telepon seluler maupun telepon rumah.[/notice]

Jadi kesimpulannya lebih baik kita mencegah pencurian pulsa daripada nanti kita menjadi korban pencurian pulsa , jika kamu memang ingin berlangganan konten, pilihlah Content Provider yang jelas seperti yang sudah saya utarakan di atas, kejadian pencurian pulsa memang tidak disebabkan oleh semua Content Provider, tetapi hanya segelintir CP yang nakal dan tidak mematuhi “aturan main” operator seluler.

Tulisan di atas hanya merupakan pendapat pribadi saya dan tidak bermaksud memojokkan salah satu pihak dalam kasus pencurian pulsa ini, oleh karena itu kritik dan pertanyaan sangat saya hargai.

Akhir dari bahasan Pencurian Pulsa